Belajar adalah key term (istilah kunci) dalam setiap usaha pendidikan. Sementara pendidikan (tarbiyah) memiliki kesejatian makna sebagai usaha pendewasaan manusia agar menjadi insan kamil (manusia sempurna atau manusia purnawan), yakni manusia beriman, bertakwa, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi lingkungannya pabelajar sepanjang masada masa sekarang maupun mendatang.

Dengan demikian, belajar atau mendulang ilmu pada hakikatnya bukan sekadar untuk tahu, paham, dan hapal suatu pengetahuan tertentu, melainkan bagaimana menjadi mengerti, kemudian mengamalkan, dan pada puncaknya menyemaikan manfaat bagi lingkungannya.

Amal dan manfaat bagi lingkungan merupakan dimensi terpenting dalam belajar dan berilmu. Berilmu tapi tak diamalkan, amat sia-sia. Beramal tanpa didasari ilmu juga tertolak, bahkan menyesatkan. Karenanya, ilmu dan amal merupakan dua entitas vital yang tidak boleh dipisahkan.

bagaimana belajar yang tepat agar tak hanya membuahkan ilmu, tapi juga amal dan bermanfaat bagi lingkungan….???

Pertama, luruskan niat bahwa belajar merupakan sarana untuk semakin “mengenal” dan mendekatkan diri dengan Tuhan, mencapai ridla-Nya, serta menebarkan manfaat bagi agama, nusa, dan bangsa (lebih luas bagi dunia). Berilmu bukan untuk gagah-gagahan, apalagi menindas kaum lemah.

Kedua, mengagungkan ilmu dan perantara ilmu (kiai, guru, juga buku). Penghormatan atau pengagungan inilah yang kini tampak menipis di zaman sekarang. Akibat salah arah dalam memaknai modernisasi dan globalisasi, siswa, santri, dan mahasiswa, mulai tercerabut dari akar budayanya yang santun dan bermoral.

Ketiga, dilandasi minat, ketekunan, dan keuletan dalam belajar.Keempat, memilih ilmu dan guru yang tepat sehingga dapat dijadikan teladan dalam bertindak.Kelima, memiliki sifat waro’ (menjauhkan diri dari segala hal yang haram).